Jumat, 12 Juni 2015

Otodidak Berbuah Omzet Ratusan Juta

“Yang muda yang berkarya,” frasa tersebut nampaknya sangat cocok untuk menggambarkan sosok Muhammad Ali Akbar Taufani. Pria kelahiran Jakarta 12 Maret 1990 ini berhasil mengukir prestasi membanggakan di usia mudanya. Ali, begitu pemuda ini akrab disapa, tercatat sebagai salah seoang pengusaha muda tanah air lewat Rumah Denim dan brand “Comic Jeans” besutannya.

Rumah Denim adalah vendor konveksi fashion berbahan jeans seperti celanan dan jaket. Sementara Comic Jeans merupakan private brand yang dimiliki Rumah Denim. Kiprah cemerlang Ali bukan tanpa peluh dan kerja keras. Apalgi ia terbilang cukup muda kala memulai usahanya, 22 tahun.


Awal bisnisnya didasari rasa iseng. Ia bertutur, seorang kawab di Australia mengirimkannya bahan jeans impor, ia pun lantas menjahit dan memakainya. Ternyata teman-teman kuliah suka dan tertarik dengan jeans yang Ali kenakan. Melihat peluang ini, insting wirausahanya pun muncul.

“Tadinya saya Cuma iseng, lihat pola jahitan dari Youtube, minta tukang jahit buat celanan dengan bahan jeans pemberian teman dari Australia. Tak disangka, banyak teman yang suka dan memesan,” kenangnya.

Dari mulut ke mulut pemasaran bisnis Ali lama-kelamaan merambah ke dunia online. pesanan kian banyak ia terima melalui Twitter, Facebook, Kaskus, Instagram, ataupun web comicjeans.com. Pemuda yang masih berstatus sebagau mahasiswa Universitas Al-Azhar ini akhirnya memutuskan serius menggeluti bisnis menjahit celana jeans. Berbekal modal awal Rp 10 juta yang didapat dari pinjaman bank, Ali pun merintis Rumah Denim. Ia berkisah modal awal tersebut ia gunakan untuk membeli beberapa mesin jahit, bahan, dan mempekerjakan penjahit.

“Jeans ini kan bisa dipakai mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Jeans juga gampang disandingkan dengan jenis kain lain, beragam corak dengan warna. Istilahnya, jeans itu eksis sepanjang masa,” seloroh Ali soal alasannya merambah pasar jeans.



Rumah Denim menawarkan dua kategori produk, pertama adalah jeans sesuai ukuran internasional yang ready stock dan model. Kedua, adalah jeans customized yang disesuaikan dengan bentuk tubuh serta selera customer. Ini menurut Ali sangat pas untuk segmen pembeli yang memiliki bobot tubuh tidak standar. Soal target konsumen, Ali focus pada segmen pria usia 15-35 tahun, dengan harga jual di kisaran Rp 135.000 – Rp 920.000.

Karena berperan sebagai vendor, klien Ali didominasi pemilik merek dan korporat. Meski enggan mengisahkan siapa-siapa saja kliennya, ia mengaku jumlah pelanggannya mencapai 30 brand dan tidak jarang merupakan label jeans kenamaan.

Namun Ali menyadari bersaing di industry fashion terutama jeans tidaklah mudah. Pasar ini sudah cukup sengit dan disesaki pemain senior baik local maupun asing. Menyiasati hal ini, ia melancarkan value proposition yang berbeda. Misalnya menawarkan 50 lebih varian, ketebalan, dan warna bahan. Selain itu, ia juga tidak memberlakukan minimum order.

Keunggulan lain dari Rumah Denim dan Comic Jeans yaitu selain proses pengerjaannya relative cepat, customer dapat garansi selama satu tahun apabila jeans yang sudah dibeli mengalami kerusakan. Ada pula layanan 4 jam order jeans langsung jadi, dna yang menjadi andalan serta disukai konsumen adalah jahitan rangkap dua (rantai) yang terdapat pada semua jeans produksi Ali. Standar jahitan rangkap dua ini merupakan standar internasional bagi semua jeans.

“Jeans kualitas tinggi biasanya sudah berani memakai jahitan rantai. Jahitan model ini bisa memberi efek kerutan alami pada celana. Ini belum banyak dimiliki competitor, kecuali brand dengan impor karena mesin jahitnya juga khusus,” ujarnya.

Setiap bulannya Ali mengaku mampu memproduksi sekitar 800-1000 Comic Jeans dan 3000 pieces untuk vendor Rumah Denim. Semuanya dipasarkan melalui online serta outlet Rumah Denim dan Jeans yang berlokasi di Jakarta Selatan (Gandaria City dan Bintaro), serta Tangerang Selatan (Pamulang). Soal omset tidak usah diragukan lagi, angka Rp 200 juta sudah bisa Ali kantongi tiap bulan.

Sayangnya demi kesibukan bersama Rumah Denim dan Jeans, pria penggemar motor sport ini harus rela cuti meninggalkan sementara bangku kuliahnya selama dua tahun. Segala urusan baik order, manajemen 24 karyawan, memonitor outlet, keuangan, produksi, sampai kontol kualitas produk memang tidak pernah lepas dari kendali Ali.

“Saya pernah ditinggal penjahit mudik saat orderan banyak. Pernah juga tertipu giro kosong. Tapi semuanya otodidak, belajar sambil jalan karena tidak akan bisa ketemu dimana salahnya kalau tidak dicoba lebih dahulu, “ terang dia.

Ke depannya, ekspansi outlet menjadi target utama Ali. Menurutnya, sudah ada beberapa tawaran dari Pulau Dewata sebagai partner untuk membuka outlet Rumah Denim dan Jeans. Tidak ketinggalan ia pun bertekad kembali ke kampus menyelesaikan skripsi yang sempat tertunda, demi mengejar gelar sarjana perbankan.

Baca Artikel Lain
1. Yasirli Amri Bukan Pembicara Internet Marketing Paling Hebat
2. Traditonal Marketing or Digital Marketing?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar