Selasa, 09 Juni 2015

Konsumen Baru Indonesia Makin Gila Online

Jika berbicara perkembangan teknologi informasi digital, maka mau tidak mau akan memperbincangkan generasi Y. Banyak kalangan yang menyebut generasi ini sebagai generasi yang lahir awal tahun 1980 hingga 2000. Ada yang menyebut generasi ini sebagai generasi milenial.

Salah satu ciri yang menonjol dari generasi Y dibandingkan generasi X (lahir tahun 1965-1979) dan baby boomer (lahir tahun 1946-1964), mereka lebih sering atau lebih suka menggunakan teknologi informasi dalam melakukan berbagai aktivitas, baik dikantor, di rumah, di sekolah, atau saat mengisi waktu luang.

Sebagai generasi yang dimanjakan oleh teknologi, mereka ingin melakukan sesuatu dengan mudah, termasuk ketika membeli atau mengkonsumsi barang atau jasa. Jika generasi di atasnya lebih suka berbelanja di mal atau pusat perbelanjaan, mereka lebih nyaman berbelanja secara online.

Bagi generasi ini, surfing mencari produk di dunia maya tidak kalah mengasyikkan dibandingkan menjelajahi pusat perbelanjaan. Seperti generasi sebelumnya, mereka juga mencari informasi sebelum memutuskan membeli sesuatu. Hanya bedanya, jika generasi sebelumnya mencari informasi di media konvensional, generasi Y mencarinya di internet.

Belanja online digemari generasi muda karena prosesnya sederhana dan mudah. Bisa disederhanakan dengan tiga kata: search, click, and buy. Semua dilakukan hanya dalam satu gadget atau peranti mobile. Perubahan perilaku ini yang membuat pengelola e-commerce selalu ingin tampil nomor satu dalam mesin pencarian di internet.

yasirli amri bukan pembicara internet marketing paling hebat


Menurut Yasirli Amri, internet marketer dan pembicara internet marketing Indonesia, di Indonesia fenomena belaja online semakin marak, ditandai dengan semakin banyaknya situs e-commerce. Secara umum, terdapat empat model e-commerce yang berkembang di Indonesia, meliputi online marketplace, classified ads, daily deals, dan online retail (virtual store). Jika menyimak berbagai survey mengenai produk yang banyak dibeli secara online, di dalamnya ditemukan produk fashion, gadget, dan produk elektronik, juga produk yang menyangkut hobi dan olahraga.

Frontier Consulting Group belum lama ini melakukan survey mengenai belanja online. Survey menanyakan kepada berbagai kelompok umur, apakah mereka dalam tiga bulan terakhir membeli barang di online shop elektronik, online shop aneka rupa (semua jenis barang), dan online shop fashion. Hasilnya cukup variatif dengan kelompok usia 15-20 tahun, 21-30 tahun, dan 31-40 tahun mendominasi.

Kelompok responden berusia 15-20 tahun memiliki persentase paling tinggi (15,1%) dibandingkan kelompok usia yang lebih tua untuk pembelanjaan di kategori online shop elektronik. Namun untuk pembelian di kategori online shop aneka rupa, persentase yang diraih kelompok responden usia 15-20 tahun (19,5%) di bawah persentase kelompok responden usia 21-30 tahun (20,7%). Yang menarik, persentase kelompok responden usia 31-40 tahun mengalahkan persentase responden usia 15-20 tahun di kategori online shop fashion.

Cukup dominannya kelompok usia 21-30 tahun dan 31-40 tahun di kategori fashion tidak mengherankan, karena kelompok usia ini biasanya sudah lebih mapan, sehingga merasa perlu menjaga penampilan diri mereka. Mulai adaptifnya kelompok usia mapan terhadap belanja online membuat jagad online tidak hanya dikuasai oleh toko online fashion seperti Zalora atau Berrybenka.

Sekarang banyak bermunculan belanja online beragam kategori produk. Yang cukup ramai adalah e-ticketing seperti Traveloka dan reservasi online perhotelan seperti yang ditawarkan Agoda dan Bookpanorama dot com. E-commerce jenis ini marak sebagai imbas dari bertumbuhnya industri pariwisata di tanah air. Hal ini sebenarnya merupakan kabar baik bagi e-commerce di Indonesia, karena kelompok usia mapan yang punya daya beli membuat e-commerce kian menggeliat. Jasa asuransi pun mulai tertarik masuk e-commerce seperti yang dilakukan PT Central Asia Financial (CAF) dengan produk memalui “Jaga Diri”.

Produk Jaga Diri ingin menghapus kesan asuransi sebagai produk yang rumit dan berbelit-belit. Pembelian polis bisa dilakukan secara online tanpa jasa perantara atau agen, tanpa proses pemeriksaan kesehatan. Polis elektronik akan dikirim dalam hitungan menit melalui email setelah pembelian. Pelanggan pun dapat memonitor proses klaim secara online.

Namun belanja online belum sepenuhnya terintegrasi secara digital karena masalah metode pembayaran berbasis digital, sehingga seringkali yang terjadi proses yang tidak sepenuhnya digital. Belanja sudah online, tapi penyelesaian transaksinya masih konvensional, entah melalui transfer bank atau COD (cash on delivery).

Hasil survey Frontoer Consulting Group mengenai cara pembayaran saat berbelanja memperkuat dugaan tersebut. Metode pembayaran menggunakan uang tunai di online shop masih dipilih sebagian responden, dengan angka 61,4%, disusul kartu debit 28,8%. Kartu kredit 6,8%, e-banking 8,3%, kartu prabayar 0%. Hasil ini mengisyaratkan konsumen masih belum terbiasa meggunakan pembayaran digital, sekaligus menjadi peluang bagi penyedia payment gateway seperti iPaymu, Finpay, dan Firspay untuk lebih gencar mengedukasi pasar.

Kelompok muda (di bawah usia 40 tahun) juga menjadi kelompok yang dominan di ranah media sosial untuk menunjukkan jati diri mereka dan berkomunikasi serta berinteraksi dengan dunia luar. Di media sosial seperti Facebook, kelompok usia inilah yang paling aktif mengomentari sesuatu dan berbagi informasi. Di twitter, mereka adalah kelompok yang paling “berisik” mengomentari berbagai hal.

Aneka macam hal dikomentari, termasuk membagikan pendapat dan pengalamannya terhadap suatu produk dan jasa. Kondisi ini akhirnya membuat perusahaan merasa perlu membuat akun resmi di media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Akun media sosial menjadi saran yang pas untuk menciptakan engagement dengan para konsumen. Mereka dapat memanfaatkan akun media sosial untuk berbagai tujuan, bisa sebagai contact center untuk menampung suara konsumen, kanal untuk menginformasikan berbagai aktivitas perusahaan, atau mempromosikan produk.

Beragam industry mencoba masuk ke media sosial termasuk public service seperti Pam Jaya (BUMD Air DKI Jakarta) yang biasanya sangat rentan terhadap keluhan pelanggan. Mereka sadar masuk ke media sosial adalah sebuah keniscayaan jika ingin terhubung dengan pelanggan mereka. Karena konsumen kini tidak lagi aktif berkomunikasi di media konvensional, tapi di media sosial. Dengan perangkat mobile, konsumen kapan pun dan dimana saja bisa menulis atau berbagi tentang apa saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar